Harian Berita – Pasti ada banyak hal yang membuat kita begadang sampai larut malam. Seperti menonton televisi, bermain ponsel, atau memikirkan sesuatu dengan cara berlebihan.
Apabila =kita sering memikirkan sesuatu dengan cara berlebihan, bisa jadi kita mengalami overthinking.
Mungkin kita merasa bisa memecahkan masalah jika terus memikirkan setiap hal yang mengganggu. Namun, kebiasaan berpikir berlebihan tidak akan pernah menyelesaikan masalah apa pun.
Overthinking akan membuat kita stres dan hanya fokus dan berpikir hal-hal negatif, membayangkan masa lalu, dan mengkhawatirkan masa depan.
Psikoterapis Natacha Duke, MA, RP, menjelaskan, apa yang dialami seseorang saat overthinking, dan juga bagaimana cara menghentikan perilaku ini.
Jadi, Apakah overthinking termasuk penyakit mental?

Overthinking bukanlah kondisi kesehatan mental, namun bisa jadi gejala depresi atau kecemasan. Umumnya, overthinking dikaitkan dengan gangguan kecemasan umum atau generalized anxiety disorder (GAD).
Duke mengatakan, GAD biasanya ditandai dengan kecenderungan untuk khawatir berlebihan tentang beberapa hal.
“Seseorang dapat mengembangkan GAD karena gen mereka, bisa juga faktor kepribadian seperti ketidakmampuan menoleransi ketidakpastian dalam hidup, atau berdasarkan pengalaman hidup,” katanya.
“Umumnya, ini merupakan kombinasi dari ketiga hal tersebut.”
Seseorang dengan gangguan kecemasan umumnya mengalami:
- Khawatir berlebihan tentang beberapa hal selama setidaknya enam bulan
- Kesulitan mengendalikan kecemasan, yang dapat mengganggu kemampuan
Kemudian, gejala fisik GAD mencakup kegelisahan, kesulitan berkonsentrasi dan masalah tidur.
Tanda-tanda overthinking
Apabila kita cenderung terlalu banyak berpikir, bisa jadi kita mengalami:
- Kekhawatiran dari satu masalah ke masalah berikutnya
- Memikirkan skenario terburuk
- Berjuang membuat keputusan, termasuk menerka-nerka
- Kesulitan berkonsentrasi
- Merasa selalu waswas
- Mencari kepastian dari orang lain secara berulang
“Apa yang terjadi adalah efek berantai,” ujar Duke.
“Kita mulai mengkhawatirkan satu hal, kemudian memikirkan sesuatu yang sama sekali berbeda.”
“Kita bisa mengkhawatirkan pekerjaan, lalu mulai mengkhawatirkan uang. Dan itu mengarah pada kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan,” imbuhnya.
Overthinking beda dengan problem solving

Terkadang, kita meyakini jika semua kekhawatiran dan overthinking kita adalah bentuk pemecahan masalah (problem solving). Tapi, kedua hal tersebut jelas berbeda.
“Ketika masalah muncul, solusi yang memungkinkan adalah strategi koping yang positif,” jelas Duke.
“Namun saat mengalami overthinking, apa yang terjadi adalah kita merenungkan, memikirkan masalah berulang kali tanpa resolusi nyata.”
“Kita terjebak dalam lingkaran pemikiran dan kembali ke awal. Dalam beberapa kasus, kita bahkan bisa lebih sering khawatir dan cemas,” tambahnya.
Cobalah untuk fokus untuk memecahkan masalah dengan sesuatu yang ada dalam kendali kita, dan melepaskan hal yang lain.
Bila kita menghabiskan waktu yang lama untuk merenungkan masalah, hal tersebut tidak akan membuat kita lega atau puas.
Kita harus mengenali kapan kita terlalu banyak berpikir, kemudian alihkan perhatian hingga kita siap mengatasi masalah dengan cara yang bermanfaat.
Tips mengatasi overthinking

Usai menyadari diri kita sedang overthinking, Duke memberi saran untuk mengurangi kekhawatiran dengan cara yang lebih sehat.
Saat kita overthinking sampai mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasilah dengan dokter atau terapis.
“Pengobatan yang paling efektif adalah terapi perilaku kognitif,” ujar Duke.
Nantinya, terapis dapat membantu kita untuk melawan pikiran negatif dan mengembangkan keterampilan untuk meringankan kekhawatiran kita.
Duke menambahkan, strategi dengan melakukan meditasi, membaca, atau menuliskan apa yang kita pikirkan ke dalam jurnal bisa mengurangi kecemasan.
Pastikan kita mendapat dukungan sosial dari orang terdekat, serta tidak memendam masalah sendirian.
Dan yang terakhir, jangan lupa menerapkan gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang seimbang dan berolahraga. ”
Perhatikan berapa banyak kafein atau alkohol yang kita konsumsi, karena minuman ini dapat meningkatkan kecemasan,” tegas Duke.
“Juga, jangan sering-sering kehilangan gairah atau melihat media sosial dan berita, karena hal-hal tersebut akan menambah kecemasan.”
