Lebih dari Sekadar Lari, Deloitte Runify 2026 Bawa Misi Sosial dan Lingkungan

Harian Berita — Mengikuti lomba lari tidak selalu berarti harus mengejar podium atau mencatat waktu tercepat. Bagi sebagian orang, menyelesaikan rute sesuai kemampuan sudah menjadi pencapaian tersendiri sekaligus cara menjaga tubuh tetap aktif.

Lari termasuk olahraga aerobik yang melibatkan kerja jantung dan paru-paru. Jika dilakukan secara rutin dengan intensitas yang sesuai kondisi tubuh, aktivitas ini dapat membantu menjaga kebugaran kardiorespirasi.

Karena itu, pemula tidak harus langsung memasang target jarak atau kecepatan tinggi. Konsistensi berolahraga justru menjadi hal penting agar lari dapat menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

Perkembangan event olahraga kini juga tidak hanya berfokus pada aktivitas fisik. Sejumlah penyelenggara mulai menggabungkan kegiatan lari dengan kampanye sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

Salah satunya terlihat dalam Deloitte Runify 2026 yang digelar di Plaza Sudirman, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (23/8). Lebih dari 600 peserta yang terdiri atas karyawan Deloitte, klien, mitra, dan anggota komunitas mengikuti ajang tersebut dengan pilihan jarak 5 kilometer (km) dan 10 km.

Lari untuk kesehatan sekaligus pendidikan

Sebagai olahraga aerobik, lari membuat tubuh meningkatkan aktivitas jantung dan paru-paru untuk memenuhi kebutuhan energi selama bergerak. Jika dilakukan secara teratur, aktivitas tersebut dapat membantu mempertahankan kebugaran tubuh.

Meski begitu, kemampuan berlari setiap orang berbeda. Orang yang baru mulai berolahraga sebaiknya tidak memaksakan diri mengejar jarak jauh maupun kecepatan tinggi.

Jarak dan intensitas dapat ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan tubuh. Dengan pendekatan tersebut, olahraga diharapkan tidak hanya dilakukan ketika ada event, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan.

Konsep inilah yang turut dibawa Deloitte melalui Runify 2026. Selain mengajak peserta berolahraga, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat melalui program sosial.

Dari penjualan tiket dan donasi yang terkumpul selama kegiatan, lebih dari Rp170 juta berhasil dihimpun. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung program pendidikan bagi pelajar dari kelompok masyarakat kurang mampu di berbagai wilayah Indonesia.

Indonesia Leader sekaligus Presiden Direktur PT Deloitte Konsultan Indonesia, Brian Indradjaja, mengatakan Deloitte Runify telah memasuki penyelenggaraan yang ketiga.

“Setiap peserta yang terlibat seperti karyawan, klien Deloitte, relawan, pendukung, dan donatur, telah berkontribusi dengan membantu memperluas akses terhadap pendidikan bagi generasi muda Indonesia sekaligus membuka jalan menuju berbagai peluang di masa depan,” kata Brian.

Dengan konsep tersebut, jarak yang ditempuh peserta tidak hanya menjadi pencapaian pribadi. Setiap partisipasi juga dikaitkan dengan upaya memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak dan generasi muda.

Perhatikan pula dampak lingkungan

Di sisi lain, penyelenggaraan acara dengan jumlah peserta yang besar juga memiliki konsekuensi terhadap lingkungan. Transportasi, mobilitas peserta, hingga berbagai kebutuhan operasional dapat menghasilkan emisi karbon.

Untuk mengetahui dampak tersebut, Deloitte bekerja sama dengan Jejakin melakukan pengukuran jejak karbon Deloitte Runify 2026. Perhitungan mencakup emisi yang berasal dari aktivitas peserta, transportasi, serta kegiatan operasional selama acara.

Jejak karbon yang dihasilkan kemudian dikompensasi melalui penanaman mangrove. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan yang muncul dari penyelenggaraan event.

Pengelolaan sampah juga menjadi perhatian.

Deloitte mengajak karyawannya mengumpulkan perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan sebagai bagian dari program pengelolaan limbah elektronik atau e-waste.

Bersama Olah Plastic, material plastik dan elektronik yang terkumpul dari kantor Deloitte kemudian dimanfaatkan kembali untuk berbagai kebutuhan acara. Material tersebut digunakan antara lain untuk membuat medali finisher, elemen panggung, dinding foto, hingga instalasi seni.

Upaya tersebut sekaligus memperkenalkan konsep ekonomi sirkular, yakni mengurangi pembuangan material dengan menggunakannya kembali untuk kebutuhan lain.

Edukasi mengenai upcycling juga diberikan melalui lokakarya yang diikuti 50 karyawan Deloitte. Dalam kegiatan tersebut, keyboard komputer bekas diolah menjadi gantungan kunci.

Melalui konsep tersebut, event lari tidak hanya menjadi ruang untuk berolahraga. Kegiatan yang melibatkan banyak peserta juga dapat dimanfaatkan untuk mendorong kepedulian terhadap pendidikan, pengelolaan limbah, dan keberlanjutan lingkungan.