Pakaian Terkena Abu Vulkanik? Lakukan Hal Ini!

Harian Berita — Hujan abu vulkanik yang terjadi sekarang ini tak hanya membuat kualitas udara menjadi buruk. Namun juga membuat pekerjan rumah tangga menjadi lebih rumit. Pakaian yang sudah dicuci dan dijemur di luar ruangan berisiko kembali terkena partikel abu sehingga harus dicuci ulang.

Kondisi tersebut perlu diperhatikan menyusul sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang mencapai sejumlah wilayah. Tak hanya Lampung dan Banten, abu juga dilaporkan berdampak hingga Bengkulu, DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Barat.

Abu vulkanik berbeda dari debu rumah tangga biasa. Partikelnya dapat menempel pada pakaian, kemudian terbawa masuk ke rumah ketika pakaian tersebut diangkat dari jemuran.

Karena itu, masyarakat sebaiknya menyesuaikan cara menjemur pakaian selama hujan abu masih terjadi.

Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) menganjurkan masyarakat untuk tetap berada di dalam ruangan ketika abu vulkanik turun. Dengan pertimbangan tersebut, pakaian yang baru dicuci sebaiknya dikeringkan di dalam rumah apabila kondisi memungkinkan.

Jika tidak memiliki ruang yang cukup untuk menjemur di dalam rumah, gunakan area luar yang terlindung. Jemuran di bawah kanopi atau atap dapat membantu mengurangi paparan langsung abu pada pakaian.

Pakaian Terkena Abu Sebaiknya Dicuci Kembali

Hujan abu dapat datang secara tiba-tiba. Karena itu, pakaian yang sebelumnya sudah dijemur di luar ruangan tetap berpotensi terkena abu meskipun awalnya kondisi cuaca terlihat aman.

Jika abu vulkanik telanjur menempel pada pakaian, jangan langsung membawa pakaian tersebut ke dalam rumah. Pakaian sebaiknya dibilas terlebih dahulu menggunakan air mengalir untuk menghilangkan partikel abu.

USGS juga menyarankan penggunaan deterjen lebih banyak untuk pakaian yang mengalami kontaminasi abu cukup berat. Setelah proses pencucian selesai, pakaian dapat dikeringkan kembali.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah penggunaan mesin pengering. Pastikan pakaian benar-benar bebas dari abu sebelum memasukkannya ke mesin. Partikel abu vulkanik yang tertinggal pada kain dapat berpotensi menggores bagian dalam mesin pengering.

Dengan demikian, pilihan paling aman selama hujan abu masih berlangsung adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mengupayakan proses pengeringan pakaian di tempat yang terlindung.

Waspadai Dampak Abu Vulkanik bagi Kesehatan

Selain mengotori pakaian dan berbagai permukaan, abu vulkanik juga dapat mengganggu kesehatan. Partikel halus yang terhirup bisa masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan sejumlah keluhan.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Profesor Tjandra Yoga Aditama, mengatakan abu vulkanik dapat memicu batuk dan iritasi tenggorokan ketika masuk ke saluran napas.

“Dalam kondisi tertentu, paparan juga bisa memicu penyakit seperti bronkitis serta memperburuk kondisi asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK),” ujar Tjandra, dikutip dari Antara, Senin (7/9/2026).

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan sistem pernapasan. Paparan abu juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.

Masyarakat juga perlu memperhatikan kebersihan makanan dan sumber air. Jika abu vulkanik mencemari makanan atau air yang dikonsumsi, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan pada saluran pencernaan.

Selama hujan abu masih berlangsung, masyarakat sebaiknya membatasi paparan di luar ruangan, menggunakan perlindungan yang sesuai, serta memastikan pakaian dan barang-barang yang terkena abu dibersihkan sebelum digunakan atau dibawa masuk ke rumah.