Kenali Gejala Influenza A Sebelum Berkembang Jadi Pneumonia

Harian Berita — Influenza A tidak selalu berhenti sebagai batuk, pilek, atau demam biasa. Pada kondisi tertentu, infeksi ini dapat melemahkan pertahanan tubuh sehingga bakteri yang sebelumnya berada di saluran pernapasan lebih mudah masuk ke paru-paru dan menyebabkan pneumonia.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi, Joyce Bratanata, menjelaskan bahwa infeksi influenza dapat mengganggu sistem pertahanan tubuh. Ketika perlindungan tersebut menurun, bakteri yang berkolonisasi di saluran napas atas berpotensi berkembang di paru-paru.

Karena itu, gejala awal influenza A sebaiknya tidak diabaikan. Keluhannya dapat menyerupai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), seperti sakit tenggorokan, batuk kering, pilek, dan demam tinggi.

Batuk atau pilek yang berlangsung beberapa hari, terutama jika disertai demam, perlu mendapat perhatian lebih. Joyce menyarankan masyarakat memeriksakan diri jika keluhan tersebut sudah berlangsung sekitar tiga hari dan tidak membaik.

Pemeriksaan sejak awal dapat membantu dokter menentukan penyebab infeksi. Beberapa metode yang dapat digunakan antara lain swab antigen influenza dan pemeriksaan panel PCR.

Diagnosis yang tepat penting agar pengobatan dapat disesuaikan dengan kondisi pasien. Dengan begitu, penggunaan obat tidak dilakukan secara sembarangan.

Joyce juga menegaskan bahwa tidak semua pasien influenza membutuhkan antivirus. Obat tersebut umumnya dipertimbangkan pada pasien dengan indikasi klinis yang jelas atau mereka yang memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi.

Anak dan Lansia Termasuk Kelompok yang Perlu Diwaspadai

Risiko influenza A menjadi lebih berat pada kelompok tertentu. Anak-anak, terutama balita dan anak usia 6-7 tahun, termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian. Lansia juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami perburukan kondisi.

Selain usia, penyakit penyerta atau komorbid juga dapat meningkatkan risiko. Kondisi yang perlu diwaspadai antara lain penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, asma, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Orang dengan daya tahan tubuh yang menurun juga termasuk kelompok rentan. Di antaranya pasien autoimun, penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi, serta orang dengan HIV.

Untuk mengurangi risiko penularan, masyarakat dianjurkan kembali memperhatikan langkah pencegahan dasar, baik di rumah maupun lingkungan kerja. Influenza dapat menyebar melalui udara sehingga penggunaan masker menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan, terutama ketika sedang mengalami gejala atau berada di lingkungan berisiko.

Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum menyentuh anggota keluarga juga penting. Selain itu, hindari merokok di dalam ruangan tertutup karena dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan.

Vaksinasi influenza tahunan juga dapat menjadi bagian dari perlindungan. Vaksin influenza yang beredar saat ini umumnya memberikan perlindungan terhadap galur influenza A dan B.

Kasus H3N2 Subclade K Tersebar di 20 Provinsi

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan terdapat 184 kasus influenza A(H3N2) Subclade K yang tercatat sejak 2025 hingga minggu ke-36 2026. Kasus tersebut ditemukan di 20 provinsi.

Penyebaran paling banyak tercatat di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan. Sementara khusus sepanjang 2026 hingga minggu ke-36, terdapat 22 kasus influenza A H3N2 Subclade K yang tersebar di enam provinsi.

Pada periode tersebut, kasus paling banyak ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Papua Selatan.

Influenza A(H3N2) Subclade K merupakan bagian dari virus influenza A(H3N2) yang mengalami perubahan genetik atau mutasi. Istilah “super flu” juga digunakan untuk menyebut jenis influenza tersebut dalam pemberitaan.

Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, kasus paling banyak ditemukan pada anak usia 0-4 tahun dengan proporsi 38 persen. Berikutnya adalah kelompok usia 5-9 tahun sebesar 23,4 persen dan usia 10-17 tahun sebesar 21,2 persen.

Sementara itu, kelompok usia 18-59 tahun menyumbang 15,8 persen kasus dan kelompok usia di atas 60 tahun sebesar 1,6 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap gejala influenza tetap diperlukan, terutama pada kelompok usia dan kondisi kesehatan yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.