Islamofobia Menurut Pengamat

Harian Berita – Islah Bahrawi, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia menilai, upaya Fadli Zon seorang politikus Partai Gerindra yang menggadang-gadang islamofobia atau ketakutan kepada Islam ini terkait dengan kepentingan perolehan suara pada pemilu via politik identitas.

“Islamofobia ini selalu dipakai oleh politisi di negara-negara dengan minoritas muslim sebagai alat untuk menormalisasi kebencian terhadap Islam,” ujarnya.

“Tapi di negara-negara dengan mayoritas muslim [islamofobia] juga dipakai sebagai alat politik identitas untuk memperkuat kebencian itu sebagai daya pikat elektoral,” imbuh Islah.

Dia juga mengatakan jika hal tersebut merujuk pada buku yang ditulis Nathan Lean berjudul ‘The Industry of Islamophobia’.

“Yang memiliki arti begini, islamofobia ini tidak berdiri sendiri. Ini di nikmat kedua belah pihak. Baik non-Islam maupun orang Islam sendiri,” katanya.

Komentar Fadli Zon


Fadli Zon sebelumnya mewacanakan pembubaran Densus 88/Antiteror Polri yang dia nilai berbau islamofobia. Hal ini dia ungkapkan usai menyebut kemenangan Taliban yang memicu teror di dalam negeri.

“Narasi semacam ini tak akan dipercaya rakyat lagi, berbau Islamofobia. Dunia sudah berubah, sebaiknya Densus 88 ini dibubarkan saja. Teroris memang harus diberantas, tapi jangan dijadikan komoditas,” tulis Fadli di akun Twitter miliknya, Rabu (6/10).

Pada acara diskusi yang sama, Fadli Zon yang adalah anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Barat V (Kabupaten Bogor), mengatakan bahwa teroris sering dan sengaja diciptakan oleh otoritas negara sebagai komoditas.

“Kan ada juga istilah dalam intelijen itu, agen-agen yang ditanam di kelompok teroris sebetulnya mereka lah yang menggerakkan. Dan mereka itu lah yang biasanya merekrut bahkan membiayai,” kata dia.

Merujuk buku yang ditulis Trevor Aaranson berjudul ‘Terror Factory’, Fadli mengungkap bahwa dari 581 kasus teror di Amerika, 580 di antaranya adalah buatan biro investigasi federal atau FBI.

Oleh karena itu, ia khawatir kasus serupa juga terjadi di Indonesia.

“Jadi ini menurut saya harus kita teliti jangan sampai kita juga termakan oleh kampanye war on terror ini. Dan sasarannya adalah saya kira hampir 100 persen ditujukan kepada Islam,” ujarnya dia.