Aktivitas Gunung Karangetang Meningkat, Status Masih Waspada

Harian Berita — Aktivitas vulkanik Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, kembali meningkat setelah terjadi erupsi pada Minggu (12/7) malam. Letusan tersebut memuntahkan material pijar dan diikuti aliran lava yang mengarah ke beberapa sisi lereng gunung.

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi diawali dengan letusan bertipe strombolian atau letusan eksplosif berintensitas lemah. Kolom letusan mencapai sekitar 100 meter dari puncak kawah dan disertai suara dentuman.

Material Pijar Picu Kebakaran Ilalang

Setelah letusan awal, aktivitas gunung berlanjut dengan erupsi efusif berupa aliran lava. Material panas mengalir sejauh sekitar 1 kilometer ke arah utara, sekitar 400 meter ke barat daya, serta kembali mencapai sekitar 1 kilometer ke arah selatan dari kawah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sitaro melaporkan lontaran material pijar sempat membakar ilalang di sekitar puncak gunung. Pantulan cahaya dari kobaran api di balik kabut membuat area puncak tampak menyala terang pada malam hari.

Pada Senin (13/7), petugas kembali menemukan kebakaran ilalang di kawasan puncak. Api berhasil dipadamkan dan hingga kini personel BPBD masih bersiaga untuk memantau perkembangan aktivitas gunung sekaligus mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan akibat material vulkanik.

Meski aktivitas vulkanik meningkat, kehidupan masyarakat di sekitar gunung dilaporkan masih berlangsung normal.

Status Gunung Masih Level II, Warga Diminta Tetap Waspada

Gunung Karangetang yang memiliki ketinggian 1.784 meter di atas permukaan laut saat ini masih berstatus Level II (Waspada). Status tersebut belum berubah sejak 11 Januari 2025 meskipun aktivitas kegempaan terus meningkat sejak awal Juli.

PVMBG mencatat berbagai aktivitas seismik selama periode 1 hingga 11 Juli 2026, mulai dari gempa guguran, gempa hembusan, tremor harmonik dan non-harmonik, gempa vulkanik dangkal maupun dalam, hingga gempa tektonik lokal dan jauh.

BNPB mengimbau masyarakat serta wisatawan untuk tidak memasuki kawasan rawan bencana di sekitar puncak gunung. Area yang harus dihindari meliputi radius 1,5 kilometer dari Kawah Utara dan Kawah Utama, serta zona perluasan ke arah selatan-barat daya sejauh 2,5 kilometer.

Selain itu, warga yang tinggal di sekitar aliran sungai berhulu di Gunung Karangetang diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar saat hujan turun.

Masyarakat juga diingatkan agar tetap waspada terhadap kemungkinan guguran lava maupun awan panas yang dapat terjadi sewaktu-waktu akibat tumpukan material vulkanik yang masih belum stabil.