Harian Berita – Bos Wagner Group Yevgeny Prigozhin menemui Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin, 29 Juni lalu, setelah rencana kudeta pasukan bayaran Rusia tersebut batal.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyampaikan keterangan itu pada Senin (10/7), sebagaimana dikutip dari CNN.
Pada 29 Juni, Peskov mengatakan Putin bertemu dengan 30 petinggi militer termasuk Peskov. Informasi tersebut disampaikan merespons media Prancis yang melaporkan bahwa Prigozhin ke Kremlin usai batal memberontak.
“Benar, Presiden (Putin) telah menggelar pertemuan itu. Dia mengundang 35 orang, (termasuk) seluruh komandan dan para pemimpin termasuk Prigozhin sendiri,” kata Peskov.
“Pertemuan ini digelar di Kremlin pada 29 Juni yang berlangsung hampir 3 jam. Mengenai detailnya tak diketahui. Satu hal yang bisa diketahui bahwa Presiden memberikan penilaian soal aksi pada kampanye di geris depan selama operasi militer khusus, termasuk peristiwa 24 Juni,” imbuhnya.
Peskov melanjutkan, Putin menyimak penjelasan dari masing-masing dan memberikan pilihan lebih lanjut untuk pengerahan dan untuk kepentingan peretempuran.
Minggu lalu, Peskov menyebut Kremlin tidak mempunyai kemampuan dan kemauan untuk melacak pergerakan Prigozhin.
Diketahui sebelumnya, muncul beberapa spekulasi mengenai keberadaan Prigozhin setelah membatalkan aksi pemberontakan pada 23-24 Juni.
Putin sempat disebut dalam posisi sulit setelah dokumen Wagner Group bocor, menyusul adanya pemberontakan tentara bayaran ini kepada Kremlin akhir Juni lalu.
Penilaian tersebut muncul dari lembaga think tank Institute for the Study of War (ISW). Di mana mereka menduga keputusan Putin tak “membuang” Wagner dengan cepat setelah pemberontakan menempatkan dia dan bawahannya “dalam posisi yang bingung.”
Dilaporkan Wagner masih melakukan perekrutan di Rusia. Sementara itu, Kementerian Pertahanan berusaha membujuk anggota tentara bayaran ini untuk menandatangani kontrak.
“[Namun, situasinya] mempersulit Putin dan pemain lain Rusia untuk mengetahui bagaimana berinteraksi dengan Wagner Group dan para pemimpin serta pejuang mereka,” demikian menurut ISW, dikutip Newsweek, Senin (10/7).
