Ratusan Desa di Jawa Terdampak Banjir Awal Tahun 2026

Harian Berita — Sejumlah daerah di Pulau Jawa dilanda banjir sejak awal hingga pertengahan Januari 2026. Bencana hidrometeorologi ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga menjalar ke berbagai wilayah lain seperti Pasuruan, Lamongan, Bekasi, Karawang, Kudus, hingga Pati. Dampaknya cukup besar, mulai dari ratusan rumah terendam hingga ribuan keluarga harus bertahan dalam kondisi darurat.

Berikut rangkuman wilayah terdampak banjir di Pulau Jawa sepanjang pekan ini.

Pasuruan: 13 Desa Masih Terendam

Banjir yang melanda Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, sejak Selasa (20/1) sore belum sepenuhnya surut hingga Rabu (21/1) pagi. Sebanyak 13 desa di tiga kecamatan masih terendam dengan ketinggian air mencapai dada orang dewasa.

Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi menyebut wilayah terdampak berada di Kecamatan Winongan, Grati, dan Rejoso. Delapan desa di Kecamatan Winongan masih terendam, antara lain Prodo, Winongan Kidul, Winongan Lor, Bandaran, Lebak, Sidepan, Penataan, dan Menyarik. Ribuan kepala keluarga dilaporkan terdampak banjir.

Sementara itu, beberapa desa seperti Sekarputih, Ranggeh, Pekangkuran, Kelurahan Gondangwetan, serta Desa Sruwi dilaporkan mulai terbebas dari genangan.

Lamongan: Bengawan Jero Masih Siaga Merah

Banjir di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Jero, Lamongan, Jawa Timur, masih berlangsung. Tinggi muka air sungai tercatat melampaui batas Siaga Merah, merendam ribuan rumah warga di lima kecamatan.

Data UPTD PSDA Kuro menunjukkan ketinggian air di Kali Blawi pada Rabu (21/1) pukul 06.09 WIB mencapai +0,77 meter, jauh di atas ambang Siaga Merah di level +0,50 meter. Kepala Bagian Kominfo Lamongan Sugeng Widodo menjelaskan, curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama kenaikan debit air.

BPBD Lamongan mencatat banjir berdampak pada 5.188 rumah warga dan 7.125 hektare lahan pertanian di Kecamatan Kalitengah, Turi, Deket, Glagah, dan Karangbinangun. Selain itu, sebanyak 92 lembaga pendidikan turut terdampak.

Bekasi: Tanggul Citarum Jebol

Banjir juga melanda Kabupaten Bekasi setelah tanggul Sungai Citarum di Kampung Bendungan, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muaragembong, jebol. Luapan air langsung merendam ratusan rumah warga dengan ketinggian air mencapai satu meter.

Warga setempat, Satibi (45), mengatakan derasnya arus air membuat tanggul tidak mampu menahan tekanan sungai. Kondisi tanah yang rapuh serta posisi tanggul yang berdekatan dengan jalan raya mempercepat aliran air masuk ke permukiman.

BPBD Kabupaten Bekasi mencatat panjang tanggul yang jebol mencapai enam meter. Selain permukiman, banjir juga mengancam lahan pertanian dan tambak warga yang berpotensi mengalami gagal panen.

Karawang: Warga Khawatir Rumah Ambruk

Luapan Sungai Citarum turut menimbulkan kekhawatiran di Kelurahan Adiarsa Barat, Kecamatan Karawang Barat. Warga yang tinggal di bantaran sungai telah terdampak banjir selama dua hari berturut-turut hingga Senin (20/1).

Ketua RT setempat, Heri (45), mengatakan kekhawatiran warga tidak hanya pada genangan air, tetapi juga potensi ambruknya rumah akibat erosi tanah di sekitar fondasi bangunan. Data sementara mencatat banjir di Karawang meluas ke 29 desa dan kelurahan di delapan kecamatan, meski beberapa titik mulai menunjukkan penurunan debit air.

Kudus: Ribuan Warga Mengungsi

Di Jawa Tengah, Kabupaten Kudus mengalami banjir akibat hujan sedang hingga lebat sejak Jumat (9/1). BPBD Kudus mencatat banjir merendam 38 desa di tujuh kecamatan, dengan jumlah pengungsi mencapai 2.211 jiwa yang tersebar di 14 lokasi pengungsian.

Selain banjir, tanah longsor juga terjadi di 135 titik pada 14 desa di tiga kecamatan. Bencana ini menyebabkan satu orang meninggal dunia dan 34 rumah terdampak. Tak hanya itu, banjir juga merusak 315,49 hektare lahan padi di beberapa kecamatan.

Pati: Aktivitas Warga Lumpuh

Banjir di Kabupaten Pati dipicu meluapnya Sungai Silugonggo pada Sabtu (17/1). Air setinggi satu meter merendam permukiman warga Dukuh Ngantru, Desa Mustokoharjo, sehingga kendaraan tidak dapat melintas.

Bupati Pati Sudewo menyebut banjir kali ini merendam sekitar 9.000 rumah di 112 desa yang tersebar di tujuh kecamatan. Hingga Selasa (20/1), banjir masih menggenangi sejumlah wilayah dan memaksa warga beraktivitas menggunakan perahu, termasuk untuk berobat dan mengantar anak ke sekolah.