Harian Berita – Thalasemia dan anemia mempunyai gejala yang sama, yakni kelelahan, kulit yang pucat, hingga napas pendek. Walau demikian, keduanya juga mempunyai perbedaan dari segi penyebab dan cara mengatasinya.
Seseorang yang memiliki thalasemia, akan tetapi mendapatkan pengobatan untuk anemia, kondisi yang dia alami tidak akan membaik. Bahkan justru akan menimbulkan masalah kesehatan lain yang lebih serius.
Oleh karena itu, perlu Anda tahu apa perbedaan thalasemia dan anemia berikut ini.
Perbedaan thalasemia dan anemia
Thalasemia sendiri adalah kelainan darah yang diturunkan dari orang tua pada anak. Sementara anemia adalah kondisi saat darah tidak memiliki sel darah merah sehat yang cukup.
Dilansir dari Mayo Clinic, beberapa penderita thalasemia tidak mengalami gejala apapun, tetapi beberapa lainnya akan mengalami gejala yang mirip dengan gejala anemia, yaitu:
- Merasa lelah
- Merasa lemas
- Memiliki kulit yang pucat atau kekuningan
- Mengalami perubahan bentuk tulang wajah
- Mengalami pertumbuhan yang lambat
- Mengalami pembengkakan perut
- Memiliki urine yang berwarna gelap
Walaupun memiliki gejala yang sama, thalasemia dan anemia bisa dikatakan berbeda. Pasalnya, penderita thalasemia tidak akan membaik bila mendapatkan pengobatan untuk anemia, begitu juga sebaliknya.
Mengutip dari Verywell Health dan WebMD, berikut adalah perbedaan thalasemia dan anemia yang harus Anda ketahui.
Penyebab
Thalasemia terjadi saat tubuh tidak dapat memproduksi hemoglobin yang merupakan protein penting dalam sel darah merah.
Kondisi ini disebabkan adanya kelainan gen yang diturunkan oleh orang tua pada anak, yang kemudian akan muncul gejala yang mirip dengan anemia.
Penderita thalasemia hanya mempunyai jumlah sel darah merah yang lebih sedikit, lebih kecil, dan lebih mudah rusak sehingga tubuh tidak menerima oksigen yang diperlukan.
Sementara, anemia disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh sehingga tubuh tidak dapat memproduksi sel darah merah yang diperlukan untuk menyalurkan oksigen.
Biasanya kondisi ini terjadi saat penderita kurang mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi, tidak dapat menyerap zat besi, kehilangan zat besi lewat darah, atau sedang hamil.
Cara mengatasi
Bagi penderita thalasemia, mereka perlu melakukan transfusi darah dan terapi khelasi untuk mengatasi kondisi yang mereka alami.
Sebaliknya bagi penderita anemia, mereka harus mengonsumsi suplemen zat besi, atau sekitar 150-200 miligram setiap hari. Akan tetapi, dokter akan menentukan dosis yang tepat dan juga suplemen lain yang perlu dikonsumsi untuk membantu penyerapan zat besi yang diperlukan oleh tubuh.
Untuk penderita thalasemia, tidak dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen yang mengandung zat besi sebab dapat membahayakan kesehatan.
Transfusi darah yang dilakukan nantinya akan membuat zat besi menumpuk di dalam tubuh, sehingga harus diatasi dengan terapi khelasi.
Bukan hanya itu saja, penderita thalasemia yang mengonsumsi suplemen zat besi bisa saja mengalami kerusakan pada hati, jantung, dan sistem endokrin.
Oleh karena itu, mengetahuo apa perbedaan thalasemia dan anemia sangatlah penting supaya Anda bisa mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat.
