Ketakutan PBB Akan Konflik di Myanmar

Harian Berita – Kepala HAM PBB memperingatkan jika kemungkinan kejahatan kemanusian di Myanmar bisa sampai menuju ke  konflik besar, seperti Perang Saudara di Suriah.

Negara-negara pun didesak oleh Kantor HAM PBB untuk bertindak segera dan tegas kepada para jenderal militer yang berada di balik kudeta Myanmar 1 Februari, agar memghentikan “kampanye penindasan dan pembantaian rakyatnya”.

Gravely concerned' by coup in Myanmar: UN rights chief

Dilansir dari AFP, Michelle Bachelet, Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, dalam pernyataannya menyatakan  khawatir situasi di Myanmar sedang menuju konflik besar-besaran.

“Negara tidak boleh membiarkan kesalahan mematikan di masa lalu, di Suriah dan di tempat lain terulang kembali,” ucapnya.

Semenjak militer merebut kekuasaan dari pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada 1 Februari, Myanmar mengalami kekacauan dan perekonomiannya juga lumpuh.

Menurut kelompok pemantau setempat, tindakan keras junta militer terhadap perbedaan pendapat telah menewaskan banyak warga sipil yang mencapai setidaknya 710 pada Senin malam (12/4/2021), termasuk 50 anak.

Korban Tewas Sejak Kudeta Myanmar Tembus 180 Orang - Dunia Tempo.co

Kelompok pemberontak bersenjata etnis yang meningkatkan serangan terhadap militer dan polisi dalam beberapa pekan terakhir, meningkatkan kekhawatiran Myanmar akan konflik sipil yang lebih luas.

Kemudian, militer membalas dengan serangan udara yang dilaporkan telah membuat ribuan warga sipil mengungsi.

“Militer tampaknya bermaksud untuk meningkatkan kebijakan kekerasannya yang kejam terhadap rakyat Myanmar, menggunakan persenjataan kelas militer dan tanpa pandang bulu,” kata Bachelet.

“Ada gema yang jelas tentang Suriah pada 2011,” ujar Bachelet.

Bachelet juga memperingatkan tentang dimulainya Perang Saudara yang selama dekade terakhir di Suriah yang menewaskan hampir 400.000 orang dan memaksa lebih dari 6 juta orang meninggalkan negara Suriah.

Keadaan yang mengerikan

Fakta-fakta Negara Myanmar yang Dikudeta Militer Berkali-Kali - Tirto.ID

Bachelet mengatakan, pada 2011 pendahulunya Navanethem Pillay telah memperingatkan “bahwa kegagalan komunitas internasional untuk menanggapi dengan tekad yang bersatu bisa menjadi bencana bagi Suriah dan sekitarnya.”

“Sepuluh tahun terakhir telah menunjukkan betapa mengerikan konsekuensinya bagi jutaan warga sipil,” katanya.

Bachelet juga menunjukan ‘laporan terpercaya’ yang mengisyaratkan bahwa pasukan militer Tatmadaw Myanmar melepaskan tembakan dengan granat berpeluncur roket, granat fragmentasi dan tembakan mortir di kota Bago selatan pada akhir pekan lalu.

Dari situ dilaporkan ada setidaknya 82 pengunjuk rasa anti-kudeta Myanmar yang tewas dalam tindakan brutal tersebut.

Dilaporkan juga, jika pasukan keamanan mencegah personel medis membantu yang terluka. Kantor HAM PBB mengatakan jika mereka akan mendenda kerabatnya dengan “denda” sekitar 90 dollar AS untuk mengklaim mayat mereka yang tewas.

Di saat yang sama, katanya, ada setidaknya 3.080 orang yang kini ditahan di seluruh negeri, dan ada 23 orang dilaporkan dijatuhi hukuman mati setelah persidangan rahasia, termasuk empat pengunjuk rasa dan 19 lainnya dituduh melakukan pelanggaran politik dan pidana.

Untuk itu, Bachelet mendesak masyarakat internasional untuk mengambil tindakan tegas sesegera mungkin.

“Pernyataan kecaman, dan sanksi terbatas yang ditargetkan, jelas tidak cukup,” ucap mantan presiden Chili itu.