Sulit Tidur Meski Capek? Ini Penyebabnya

Harian Berita — Banyak orang pernah mengalami kondisi ketika tubuh terasa sangat lelah setelah menjalani aktivitas seharian, tetapi pikiran justru terus bekerja tanpa henti.

Ketika berbaring di tempat tidur, mata terasa berat dan energi hampir habis, akan tetapi otak masih sibuk memikirkan pekerjaan, rencana esok hari, sampai berbagai kejadian yang sudah berlalu.

Fenomena ini bukan hal yang aneh. Bahkan, kondisi tubuh yang kelelahan tidak selalu sejalan dengan kemampuan otak untuk beristirahat. Para ahli mengatakan kelelahan fisik dan aktivitas mental dikendalikan oleh sistem yang berbeda, sehingga seseorang bisa saja merasa capek secara fisik tetapi tetap terjaga secara mental.

Efek Zeigarnik Membuat Pikiran Sulit Berhenti

Salah satu penyebab utama otak tetap aktif saat tubuh lelah adalah efek Zeigarnik. Teori yang diperkenalkan psikolog Bluma Zeigarnik pada era 1920-an ini menjelaskan bahwa manusia cenderung lebih mudah mengingat tugas atau pekerjaan yang belum selesai dibandingkan yang sudah tuntas.

Ketika masih ada pekerjaan yang tertunda atau masalah yang belum menemukan solusi, otak akan terus menyimpannya dalam memori aktif. Akibatnya, berbagai hal tersebut muncul kembali saat malam hari ketika tubuh mulai beristirahat.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tugas yang belum selesai dapat memicu pikiran berulang dan membuat seseorang sulit mencapai kondisi rileks sebelum tidur.

Kondisi “Lelah Tapi Tegang”

Faktor lain yang sering menjadi penyebab adalah kondisi yang dikenal sebagai cognitive hyperarousal. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan keadaan ketika otak tetap berada dalam mode siaga meskipun tubuh sebenarnya sudah kehabisan tenaga.

Situasi ini sering dialami oleh orang yang sedang menghadapi tekanan pekerjaan, masalah pribadi, atau kecemasan berlebihan. Dalam kondisi tersebut, sistem stres tubuh terus aktif dan memproduksi hormon kortisol yang berfungsi menjaga kewaspadaan.

Idealnya, kadar kortisol akan menurun pada malam hari untuk membantu tubuh memasuki fase istirahat. Namun pada sebagian orang, hormon ini tetap tinggi akibat stres berkepanjangan, penggunaan gadget sebelum tidur, atau tekanan emosional yang belum terselesaikan.

Akibatnya, tubuh mengirim sinyal lelah, tetapi otak masih menganggap situasi belum aman untuk beristirahat.

Selain stres, pikiran yang terus aktif juga bisa dipicu oleh kebutuhan otak untuk menyelesaikan masalah atau mencari kepastian. Ketika seseorang sedang menghadapi keputusan penting, konflik, atau persoalan yang belum menemukan jalan keluar, otak akan terus memproses informasi tersebut.

Karena belum mendapatkan solusi yang memuaskan, pikiran akan berputar-putar pada topik yang sama. Inilah yang membuat banyak orang mengulang percakapan, menyesali keputusan tertentu, atau memikirkan berbagai kemungkinan saat hendak tidur.

Cara Mengurangi Pikiran Berlebih Sebelum Tidur

Kondisi ini dapat mengganggu kualitas tidur jika terjadi terus-menerus. Untuk membantu tubuh dan pikiran lebih rileks di malam hari, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan.

Mulailah dengan membangun rutinitas malam yang menenangkan, seperti membaca buku atau mandi air hangat. Kurangi penggunaan ponsel dan perangkat elektronik setidaknya satu jam sebelum tidur. Selain itu, latihan pernapasan dalam, meditasi ringan, serta menjaga pola makan yang sehat juga dapat membantu menurunkan tingkat stres.

Dengan memberikan waktu bagi otak untuk bertransisi dari aktivitas harian menuju waktu istirahat, kualitas tidur dapat menjadi lebih baik dan tubuh pun mendapatkan pemulihan yang optimal.