Harian Berita — Seperti yang kita tahu, intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto sejak awal masa pemerintahannya menjadi sorotan publik. Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, menilai langkah diplomasi yang dilakukan Prabowo merupakan respons terhadap dinamika geopolitik global yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.
Menurut Qodari, saat ini situasi dunia jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Persaingan antarnegara besar, ketegangan geopolitik, hingga ancaman konflik berskala luas membuat Indonesia perlu memperkuat hubungan dengan berbagai negara melalui jalur diplomasi.
“Pak Prabowo sering ke luar negeri karena situasi geopolitik global hari ini memang tidak sama seperti sebelumnya,” kata Qodari dalam program Inside Story With Diana di CNN Indonesia, Selasa (16/6).
Diplomasi untuk Perkuat Ketahanan Energi
Qodari menjelaskan, kunjungan luar negeri yang dilakukan Presiden tidak hanya bertujuan mempererat hubungan diplomatik, tetapi juga untuk membangun kerja sama strategis yang dapat mendukung kebutuhan dalam negeri. Salah satu fokus utama yang menjadi perhatian pemerintah adalah sektor energi.
Ia mengungkapkan bahwa Indonesia masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap impor minyak. Dari kebutuhan sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, sekitar 1 juta barel masih dipenuhi melalui impor dari berbagai negara.
Karena itu, pemerintah menilai hubungan yang baik dengan negara-negara produsen energi menjadi hal penting. Menurut Qodari, diplomasi yang aktif dapat membuka peluang kerja sama sekaligus memastikan pasokan energi bagi Indonesia tetap terjaga.
“Dengan kondisi seperti sekarang, Presiden perlu membangun hubungan yang baik dengan negara-negara yang memiliki produksi minyak besar agar kebutuhan energi nasional dapat terpenuhi,” ujarnya.
Dunia Dinilai Sedang Memasuki Masa Transisi
Tak hanya persoalan energi, Qodari juga menyoroti perubahan peta kekuatan global. Ia menilai dunia saat ini sedang memasuki masa transisi di tengah persaingan antara Amerika Serikat dan China.
Menurutnya, pergeseran kekuatan geopolitik tersebut menciptakan situasi yang rentan dan berpotensi memicu ketegangan baru. Dalam kondisi seperti itu, Indonesia harus mampu menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak tanpa mengabaikan kepentingan nasional.
Di sisi lain, pemerintah juga menilai penguatan sektor domestik menjadi langkah yang tidak kalah penting. Karena itu, Prabowo disebut terus mendorong percepatan program swasembada pangan sebagai bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian global.
Qodari mengatakan ketahanan pangan perlu dibangun sejak sekarang karena risiko krisis hingga konflik berskala besar bisa terjadi kapan saja. Menurutnya, kesiapan dalam negeri menjadi faktor penting agar Indonesia mampu menghadapi berbagai kemungkinan yang muncul di masa mendatang.
Ia pun menegaskan bahwa cara pandang Presiden Prabowo terhadap situasi global berbeda dengan sebagian pengamat. Pemerintah, kata dia, melihat kondisi geopolitik saat ini sebagai tantangan yang harus diantisipasi melalui kombinasi diplomasi internasional dan penguatan ketahanan nasional.
